Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan

Jumat, November 19, 2010

RAHASIA SEBUAH DOA

God, hari ini ada segayung air yang mengendap di dadaku. Sudah ke sekian kalinya aku mengikuti tes tersebut. Hari ini, ternyata aku gagal lagi. Aku merasa sudah melakukan usaha yang maksimal, baik lahir maupun batin.Tak henti doapun kupanjatkan kepada-Mu karena aku selalu ingat Ud'uuniiy astajib lakum(Berdoalah kepada-Ku, niscaya Kukabulkan). Aku juga ingat bahwa Kau Mahadekat melebihi urat leherku sendiri.Tapi, mengapa Tuhan?hari ini aku malah menggantang kecewa.Padahal, aku tak meminta yng muluk. Aku hanya ingin bisa memberi bukan hanya diberi. Walau bagaimanapun tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

Tuhanku, aku tak mau menjadi pengikut aliran sesat yang diciptakan orang yang kecewa karena doanya belum Kau kabulkan.Tuhanku, aku merasa seperti seorang pengemis yang berdoa agar ia bisa bersedekah.Akan tetapi, aku juga masih ingat bagaimana Engkau menunjukkan kepadaku tentang rahasia sebuah doa.

Waktu itu, aku juga tak henti berdoa kepada-Mu agar honor tulisanku segera turun karena simpananku makin menipis.Waktu itu Engkau juga tak menurunkan honorku hingga simpananku habis. Ternyata Engkau baru menurunkan honorku setelah simpananku habis dengan jumlah yang melebihi perjanjianku dengan redaktur.Waktu itu, aku bersyukur ternyata honor itu Kautambahkan dan Kauberikan pada saat aku benar-benar membutuhkan. Entah apa yang terjadi jika honorku Kau turunkan pada saat simpananku masih ada.Tentu honorku habis dan simpananku juga habis.

Aku juga masih ingat waktu aku berpikir akan berdoa agar seorang sahabatku yang sakit segera pulang dari rumah sakit. Ternyata sebelum doaku kupanjatkan, Kau telah mengabulkan keinginanku.

Tuhan, apakah hari ini juga akan menjadi saksi Kau menunda doaku atau menggantinya dengan sesuatu yang melebihi harapanku?

Selasa, Agustus 25, 2009

HAKIKAT KESEMPURNAAN



Anak kecil merasa sempurna kalau
ia menjadi besar
Anak besar merasa sempurna kalau
ia menjadi remaja
Remaja merasa sempurna kalau
ia menjadi dewasa
Orang dewasa merasa sempurna kalau
ia memiliki pasangan
Orang yang memiliki pasangan merasa sempurna kalau
ia menikah
Orang yang sudah menikah merasa sempurna kalau
ia memiliki anak
Orang yang telah memiliki anak merasa sempurna kalau
anaknya sudah besar, remaja, dan dewasa
Orang yang telah memiliki anak yang sudah dewasa merasa sempurna jika
anaknya sudah berpasangan
Orang yang telah memiliki anak yang sudah berpasangan merasa sempurna jika
anaknya menikah
Orang yang telah memiliki menantu merasa sempurna jika
memiliki cucu,cicit,
dst. , dst.....
Lalu, kapankah manusia mencapai kesempurnaan itu?
I think never! karena yang Maha Sempurna hanyalah ALLAH

Senin, Oktober 20, 2008

Warnung V : Makna Hidup

Sang penyair : Hidup adalah menulis syair-syair terindah bagi semua orang.
Sang pelawak : Hidup adalah membuat orang tertawa terpingkal-pingkal.
Sang pedagang : Hidup adalah menghitung untung rugi supaya tidak pailit.
Sang orator : Hidup adalah mempersiapkan pembicaraan secara matang dan bermanfaat.
Sang pengarang : Hidup adalah melahirkan karangan-karangan sebagai buah karya terbaik.
Sang pelukis : Hidup adalah melahirkan lukisan-lukisan yang bermakna.
Sang aktris : Hidup adalah memerankan naskah Sang Pencipta dengan sebaik- baiknya.
Sang penjaja koran : Hidup adalah menjajakan koran sebanyak-banyaknya agar punya simpanan uang.
Sang pengamen : Hidup adalah menyanyi sepenuh hati agar orang terhibur dan rela menyisihkan sebagian uangnya.
Sang penggembala : Hidup adalah mengeluarkan ternak dari kandang, merawatnya agar sehat terawat, serta mengantarnya kembali ke kandang.
Sang petani : Hidup adalah menabur benih terbaik, merawatnya agar tumbuh subur dan memberikan hasil terbaik.
Sang pengusaha : Hidup adalah dengan modal sekecil-kecilnya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya.
Sang karyawan : Hidup adalah menyeimbangkan pengeluaran dengan pemasukan sesuai jumlah gaji yang diterima.
Sang guru : Hidup adalah berbagi ilmu yang dimotivasi keikhlasan dengan sedikit bonus berupa penghasilan.
Sang pelajar : Hidup adalah belajar, belajar dan belajar agar mendapat ilmu yang bermanfaat bagi diri dan orang lain tanpa melupakan ilmu padi,semakin berisi semakin merunduk.
Begitu banyak makna hidup sesuai jutaan profesi, so apa makna hidup sebenarnya? Hidup adalah sebuah ladang yang harus ditaburi benih kebaikan dan jasa, sehingga memberikan hasil panen yang melimpah sebagai bekal pada kehidupan berikutnya.

Sabtu, Oktober 11, 2008

Warnung IV: Ilmu Seribu

Menjelang hari terakhirnya bersamaku di dunia ini, suamiku memberiku sebuah ilmu yang takkan pernah kulupakan sepanjang hidupku. Ilmu yang sederhana dan memiliki nama yang unik: Ilmu Seribu.
Suamiku : Mi, kalau kita hanya punya uang seribu rupiah. Lalu hilang yang seratus
rupiah, apa yang akan Umi lakukan?
Aku : Ya...mencarinya sampai ketemu.
Suamiku : Ya...jangan begitu, Mi. Nanti Umi malah menjadi orang yang merugi
kalau Umi bersikap begitu.
Aku : Loh, kalau begitu seharusnya bagaimana?
Suamiku : (Tersenyum) Kalau kita memiliki uang seribu rupiah, hilang seratus
rupiah, maka yang harus kita lakukan adalah mengikhlaskan yang seratus
rupiah dan mensyukuri sisa uang yang sembilan ratus rupiah. Mana yang
lebih besar uang seratus yang hilang dengan sisa uang yang sembilan
ratus rupiah?
Aku : Ya...yang sembilan ratus rupiah. Tapi kenapa begitu,Yah? Bukankah
kalau kita cari yang seratus rupiah, uang kita tetap seribu?
Suamiku :(Lagi-lagi tersenyum) Kalau kita disibukkan mencari uang seratus rupiah
yang hilang, maka kita melupakan uang sembilan ratus rupiah yang
tersisa. Akibatnya, uang seratus rupiah yang hilang tidak dapat kita
temukan, sedangkan uang sembilan ratus rupiah juga hilang karena kita
lupa pula menyimpannya.
Waktu itu aku hanya terdiam karena aku kurang memahami maksudnya.Akan tetapi, setelah suamiku pergi meninggalkan aku, aku baru memahami Ilmu Seribu itu. Uang seratus rupiah yang hilang itu adalah gambaran suamiku yang telah menghadap-Nya.Uang sembilan ratus rupiah yang tersisa adalah gambaran anak yatimku dan keluargaku.Di sinilah aku baru mulai memahami Ilmu Seribu itu. Belajar mengikhlaskan yang hilang dan mensyukuri yang tersisa. Jika aku terus menyesali kehilangan suamiku,maka aku akan menelantarkan anak yatimku dan keluargaku. Seandainya hal itu terjadi, maka aku akan menjadi orang yang merugi. Aku tidak hanya kehilangan suamiku, tetapi akan kehilangan anak yatimku dan keluargaku juga. Akan tetapi, jika aku mensyukuri uang yang tersisa, berarti aku harus mensyukuri kehadiran mereka dengan berbuat yang terbaik untuk mereka sekaligus aku belajar mengikhlaskan kepergian suamiku. Dengan bekal ikhlas dan syukur itulah aku belajar menyongsong hidup yang lebih baik, insya Allah.

Warnung III : Masalah

Seseorang merenung setelah membaca berbagai media massa.
Dia : Mengapa Tuhan menciptakan masalah?
Suara hati : Karena dengan adanya masalah, manusia baru bisa mengembangkan
akalnya.
Dia : Mengapa demikian?
Suara hati : Karena setelah ada masalah, manusia baru mulai berpikir untuk
mengatasinya.
Dia : Jadi, masalah itu merupakan latihan untuk mencerdaskan manusia?
Suara hati : Bisa juga dikatakan demikian.
Dia : Tapi...bagaimana cara manusia memecahkan masalahnya?
Suara hati : Ya...dengan berpikir.
Dia : Tapi...bagaimana jika setelah berpikir, ia mengalami jalan buntu?
Suara hati : Ya...terus berpikir.
Dia : Tapi...kalau tetap tidak bisa?
Suara hati : Ya...tetap think and think.
Dia : Tapi...bagaimana kalau manusia itu tetap merasa tidak bisa mengatasi
masalahnya?
Suara hati : Itu berarti manusia itu tidak sabar dan mudah putusasa.
Dia : Loh, bagaimana kalau orang itu sudah sabar dan telah berusaha
semaksimal mungkin, tetapi masalahnya tetap tidak terpecahkan?
Suara hati : Mungkin ada yang ia lupakan.
Dia : Apa itu?
Suara hati : Doa
Dia : Jika ia sudah berdoa dan berusaha?
Suara hati : Seperti kata Tuhan, tawakkal.
Dia : Jika ia sudah berdoa, berusaha dan tawakkal?
Suara hati : Sabar.
Dia : Jika ia sudah sabar?
Suara hati : Mungkin ada yang ia lupakan.
Dia : Apa itu?
Suara hati : Sholat.
Dia : Mengapa?
Suara hati : Karena kata Tuhan, ” Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sholat
dan sabar sebagai penolongmu.”
Dia : Jika manusia sudah melakukan semua itu,tetapi masalahnya belum
terpecahkan?
Suara hati : Itu tidak mungkin.
Dia : Mengapa?
Suara hati : Karena Tuhan juga bilang, kalau Dia tidak akan menimpakan sesuatu
di luar kemampuan hamba-Nya.

Warnung II: Bingkai Hidup

Seseorang sedang menatap sebuah lukisan. Ia tertegun mengamati lukisan tersebut. Tak ada siapa – siapa di sekitarnya, hanya dia dan suara hatinya.
Dia : ”Apa yang kau lihat?”
Suara hati : ”Sebuah gambar.”
Dia : ”Apa yang kau lihat?”
Suara hati : ”Orang-orang yang kelelahan.”
Dia : ”Apa yang kau lihat?”
Suara hati : ”Kegersangan yang membakar.”
Dia : ”Apa lagi yang kau lihat?”
Suara hati :”Suasana yang keras.”
Dia : ”Apa lagi?”
Suara hati : ”Tidak tahu.”
Dia : ”Coba kau lihat baik-baik, apa yang kau lihat?”
Suara hati : ”Mmm...sebuah bingkai yang sangat indah.”
Dia : ”Tahukah kau makna semua itu?”
Suara hati :”Tidak tahu.”
Dia : ”Perhatikanlah baik-baik. Itu adalah gambar kehidupan. Hidup ini keras, hidup ini gersang, hidup
ini panas. Hidup ini semakin hari semakin menanjak, sehingga banyak orang yang kelelahan. Hidup
yang keras ini harus dijalani dengan ketabahan, kesabaran dan yang terpenting adalah iman, agar
orang dapat sampai ke puncak tujuan. Satu lagi yang tak boleh dilupakan , oarang yang ingin
mencapai puncak tujuan harus pantang menyerah dan tak kenal putus asa. Itulah gambar
kekerasan hidup yang dibingkai dengan indah, menjadi salah satu mahakarya Tuhan yang agung.”


Warnung (Warung Renungan) I : Waktu

Rasa jenuh menghinggapiku dari rutinitas yang selalu setia menemaniku sepanjang waktu. Sungguh perasaan tak menyenangkan sekali ketika kita benar-benar diliputi energi negatif kejenuhan.Entah apa yang harus kulakukan untuk mengusir hantu jenuh itu agar tak lama-lama menghimpitku.Aku harus segera mengubah energi negatif jenuh itu menjadi energi yang positif. Jika tidak, aku akan semakin tak merasa nyaman dan akan memunculkan energi-energi negatif lainnya. Ya, rasanya aku ingin marah-marah saja tanpa alasan, sasarannya bisa siapa saja, dan tentu saja akan menimbulkan perselisihan yang belum tentu dengan mudah mendapatkan kedamaian. Aku tak mau itu terjadi. Aku harus bisa mencari sesuatu yang bermanfaat dan bisa mengalihkan perhatianku dari rasa jenuh yang mengganggu. Aku harus memanfaatkan waktu jenuh yang terasa sia-sia ini. Aku harus memanfaatkannya selagi Tuhan masih memberiku waktu. Aku harus segera memanfaatkannya sebelum malaikat kubur meminta pertanggungjawabanku tentang waktu yang diamanatkan Tuhan kepadaku. Tuhan, beritahu aku apa yang harus kulakukan agar jenuh tak lagi mengurungku?istirahatkah?tidurkah? jalan-jalan ke mallkah? menjelajah buku-buku perpustakaankah?menikmati hobiku? Beri tahu aku, Tuhan, aku bingung! Bagaimanakah caranya memanfaatkan waktu jenuh yang sempit ini?Hhh...lagi hanya helaan nafas yang ada.
Kulirik jam dinding yang sejak tadi diam membisu memandangku, ternyata baru pukul sepuluh pagi. Mungkin lebih baik aku mengambil air wudhu. Mungkin setelah shalat dhuha aku akan merasa lebih baik. Kucoba menikmati tetes demi tetes air wudhu yang membasuh anggota tubuhku. Setelah selesai berwudhu, kutengadahkan tangan dalam kepasrahan memohon petunjuk agar jenuh segera pergi. Kukenakan pakaian kebesaranku dan kuhamparkan sajadah hijauku. Kucoba menghayati kata demi kata bacaan shalatku. Kucoba menikmati pertemuanku dengan Yang Maha Kasih melalui shalatku dalam kepasrahan dan harapan. Perlahan tapi pasti damai mulai menyelimutiku lagi. Perlahan tapi pasti pula, jenuh mulai menyingkir dari jiwa dan hatiku. Apalagi setelah salam, bibir, hati dan jiwaku tak henti berdzikir menyebut asma-Nya, semakin lengkap pulalah kedamaian yang kurasakan. Rasanya aku begitu dekaat... sekali dengan Yang Maha Sayang, sehingga jenuh yang tadi menyiksaku pun telah pergi. Hanya damai dan ketenangan yang menghangatkanku kini. Akupun lebih siap menyongsong rutinitasku kembali dengan energi yang jauh lebih baik.