Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, September 21, 2011

LANGKAH-LANGKAH MEMBUAT EMAIL GMAIL

Perkembangan teknologi yang semakin canggih telah banyak memberi perubahan dalam kehidupan kita. Anak-anak kita yang haus akan sesuatu yang baru telah begitu akrab dengan segala bentuk kemajuan teknologi. Perubahan tersebut tentu membawa dampak positif maupun dampak negatif. Begitu pula halnya dengan internet. Untuk mencegah atau mengurangi dampak negatifnya, kita sebagai orang tua mau tidak mau harus mempelajari dunia mereka agar senantiasa dapat memberikan bimbingan kepada mereka baik sebagai orang tua, sahabat, ataupun kawan. Salah satu hal penting yang harus kita miliki sebelum memasuki dunia mereka adalah email.Untuk itulah, saya mencoba untuk berbagi informasi tentang pembuatan email sederhana. Apa saja sih langkah-langkahnya?Yuk, kita cermati!

1. Bukalah layar google

gb pick2

2. ketiklah gmail email lalu klik penelusuran google atau enter!

mail1

3. Layar akan tampil seperti ini. Kliklah Gmail Email dari Google pada tulisan yang paling atas!

  mail2

 

4. Layar akan tampil seperti ini. Karena kita akan buat email baru, maka klik buat akun. Selanjutnya ikuti petunjuk berikutnya sampai selesai.Jika kita sudah memiliki email, kita hanya mengisi nama pengguna dan kata sandi, setelah itu klik masuk. Selamat mencoba!

 

mail3

Kamis, April 29, 2010

BIJAK MENYIKAPI FB



Seiring dengan perkembangan zaman, teknologi pun berkembang pesat. Gaya hidup dan segala sisi moral turut terpengaruhi. Kehadirannya bagaikan sisi mata pisau yang sangat diperlukan kehadirannya sekaligus dapat disalahgunakan.

Akhir-akhir ini salah satu karya teknologi yang terekspos sisi positif dan negatifnya adalah FB.Satu sisi banyak kasus kriminal yang ditimbulkannya, sisi lain justru memberi dampak positif yang luar biasa.Salah satu contoh kasus negatif adalah kasus penculikan anak dan remaja oleh orang-orang yang baru dikenalnya melalui FB,kasus penipuan melalui internet dengan dalih perjodohan dengan orang asing. Hal ini mungkin akan membuat para orang tua was-was dan menjauhkan anak-anak mereka dari teknologi yang kurang mereka pahami.Di sisi lain, FB juga memberi pengaruh besar terhadap kasus hukum yang menimpa Prita, contohnya.Dari segi ekonomi, seorang tukang ojek dan tukang becak yang memanfaatkan FB untuk menjaring pelanggan, meraih banyak keuntungan,bukan hanya bagi dirinya sendiri melainkan bagi orang-orang sekitarnya.

Di sinilah perlunya sikap bijak memanfaatkan FB dan meminimalisir penyalahgunaannya.Bagi kita,para orang tua, harus belajar memahami perkembangan teknologi untuk memahami perkembangan jiwa dan pergaulan anak-anak kita, sekaligus meminimalisir penyalahgunaannya oleh siapapun. Dengan duduk berdampingan, kita membimbing anak-anak kita untuk memanfaatkan sisi positif teknologi sebesar-besarnya dan memberikan arahan-arahan yang baik tentang sisi negatifnya agar mereka tak terjebak dalam sisi gelapnya. Akan tetapi, jika kita memaksa mereka menjauhinya. Dengan jiwa yang masih labil dan rasa ingin tahu yang sangat besar, maka tidak tertutup kemungkinan mereka akan mencarinya sendiri diluar, yang justru kemungkinan mendapat informasi yang salahpun semakin besar.

Memang bukan sesuatu yang mudah, mempelajari hal-hal baru yang tidak pernah ada pada masa kita dahulu. Akan tetapi, demi mengetahui perkembangan buah hati kita dan menjaganya dari hal-hal yang tidak diinginkan, kita memang dituntut untuk mempelajarinya. Menyaring sisi positifnya dan menjauhkan sisi negatifnya. Kita memberi kesempatan kepada anak-anak kita untuk mengenal teknologi sambil mengiringi mereka dari belakang. Dengan demikian, kita mengharapkan mereka tumbuh menjadi anak-anak bangsa yang tidak gaptek sekaligus memahami hal-hal negatif teknologi untuk menjauhinya. Bahkan, dengan mengenal teknologi,bisa jadi salah satu anak-anak kita akan menjadi penemu-penemu teknologi baru yang meminimalisir penyalahgunaannya.Ya, mungkin seperti penemuan mengoperasikan komputer hanya dengan gerak mata baru-baru ini dan penciptaan game-game yang mendidik yang juga merupakan hasil karya anak bangsa kita.

Kamis, Desember 24, 2009

Guru Garing N Jayus

Pernahkah kamu mendengar kata garing? atau kata jayus? Kata garing mungkin sering kita dengar untuk menggambarkan makanan yang renyah. Namun kata garing di sini adalah sebuah istilah yang digunakan beberapa orang sebagai bahasa gaul yang menggambarkan seorang guru yang berusaha menciptakan suasana kelas yang menyenangkan dengan membuat sebuah lelucon yang menurut siswanya tidak lucu. Begitu pula dengan kata jayus. Kata jayus menurut penggunaan asalnya digunakan untuk menggambarkan tidak adanya rasa cemburu pada suami/istri terhadap pasangannya. Namun, kata jayus dalam bahasa gaul beberapa remaja digunakan untuk menggambarkan guru yang mengeluarkan canda yang tidak lucu. Mungkin pada perkembangan sekarang, kita sering mendengar kata lebay dalam bhasa gaul beberapa remaja untuk menggambarkan maksud yang sama. Tidak jelas penyebabnya, mengapa mereka menggunakan kata-kata tersebut dalam bahasa gaul mereka. Mungkinkah mereka mengambil kata lebay terinspirasi dari Kisah Pak Lebai yang Malang yang menceritakan kemalangan seseorang? Ya, semua mungkin-mungkin saja.


Terlepas dari semua itu, sebagai guru, kita tidak boleh menyepelekan istilah-istilah tersebut jika istilah-istilah itu ditujukan kepada guru. Hal ini berkaitan erat dengan pengelolaan kelas dan metode belajar. Sebagai guru, kita dituntut untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan agar hasil pembelajaran memuaskan.Mary Leonhardt, seorang guru yang penulis, dalam salah satu bukunya yang saya baca, 99 Cara agar Anak Anda Asyik Mengerjakan PR, dalam penjelasan salah satu kiatnya mengatakan bahwa anak-anak cenderung patuh pada guru yang mereka sukai. Seorang guru yang hangat dan penuh perhatian sering mampu memacu murid yang paling malas sekalipun untuk mengerjakan PR, sementara guru yang bersikap dingin serta pemarah dapat melemahkan semangat dan dijauhi bahkan oleh murid yang patuh.


Untuk menjadi guru yang hangat dan penuh perhatian itu, kadang kita mengajak siswa bercanda untuk memecahkan kebosanan yang mungkin menerpa siswa-siswi kita. Namun, kadang kita tidak memperhatikan lucu tidaknya lelucon yang kita lemparkan kepada siswa. Bagi kita mungkin lucu, tetapi di mata mereka tidak. Mengapa demikian? Hal inilah yang perlu kita evaluasi. Mungkin saja penyebabnya adalah lelucon kita tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman para siswa. Oleh karena itu, dalam mengelola kelas dan menentukan metode belajar menyenangkan, kita juga harus mempertimbangkan perkembangan zaman agar apa yang kita sampaikan dapat lebih mudah diterima siswa.


Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mengetahui perkembangan zaman sekarang. Di antaranya, menonton berita atau acara-acara informatif di TV, mendengarkan berita atau informasi lainnya dari radio, atau membaca majalah atau buku-buku pengetahuan. Kita juga berusaha menjalin komunikasi yang baik dengan siswa sehingga mereka tak segan memberikan masukan-masukan positif untuk kita. Kita dituntut untuk belajar dan menerima kebenaran dari siapapun, termasuk siswa kita. Tak ada gading yang tak retak. Gurupun manusia yang tak luput dari kekeliruan.


Untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan , kitapun harus belajar supaya kita dapat menjadi guru yang disegani bukan ditakuti oleh para siswa. Jika mereka segan kepada kita, maka mereka berusaha belajar atas kesadaran mereka sendiri. Akan tetapi, jika mereka takut kepada kita, maka mereka belajar karena keterpaksaan saja. Tentu saja, hasil belajar atas kesadaran sendiri lebih baik daripada hasil belajar atas dasar keterpaksaan. Hasil belajar atas kesadaran sendiri akan memberikan dampak positif berkelanjutan karena mereka menyukainya. Akan tetapi, hasil belajar karena keterpaksaan akan memberikan dampak positif sesaat saja karena didasari ketidaksukaan.


Semoga pada tahun baru ini dan hari ibu pada tahun ini, kita selalu belajar dan belajar dari masa lalu agar kesuksesan dapat diraih di masa depan. Menciptakan manusia-manusia berkualitas dengan belajar menjadi guru yang berkualitas. Kita juga belajar menjadi ibu atau orang tua yang baik bagi para tunas bangsa yang cerdas secara intelektual, spiritual, dan emosional. Happy Mother's Day & Happy New Year!

Selasa, Juni 02, 2009

Mengasah Ilmu dengan Menulis

Setiap kita mengajar, tentu kita tak asing lagi melihat tulisan. Menulis memang sudah akrab dengan dunia kita, dunia para guru. Akan tetapi, masih jarang sekali guru yang mau menuliskan ide dan pikirannya dalam bentuk yang dapat dipublikasikan kepada publik. Bahkan ada yang berpendapat bahwa menulis sebuah opini, artikel, atau sastra hanyalah tugas guru bahasa Indonesia. Padahal, kegiatan menulis dilakukan semua guru. Seorang guru bahasa Indonesiapun yang sehari-harinya bergelut dengan segala sesuatu yang terdapat dalam bahasa Indonesia juga tak luput dari kesalahan berbahasa. Bukankah sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu jatuh juga?

Bagi sebagian orang yang telah memahami dunia guru dan telah menjalani dunia menulis, tentu ia dapat merasakan manfaat besar menulis. Bagi seorang guru bahasa Indonesia, menulis bukan hanya menuangkan ide dalam bentuk kalimat yang mudah dipahami publik. Melalui tulisan, ia belajar kembali mengasah keterampilan berbahasanya seperti memilih kata, ejaan, dan gaya bahasa yang komunikatif. Bentuk tulisan yang dapat dipilihpun beragam, mulai dari opini, artikel, cerita pendek (cerpen), dongeng, puisi, atau pantun. Mungkin bagi sebagian orang, dongeng atau cerpen adalah tulisan-tulisan yang tak berarti. Mereka cenderung menyukai tokoh-tokoh heroik luar negeri. Boleh-boleh saja kita menyukai tokoh-tokoh heroik luar negeri, tetapi jangan melupakan dongeng warisan budaya bangsa kita dan cerpen-cerpen karya anak bangsa. Justru sebenarnya, dongeng dan cerpen merupakan media yang paling efektif dalam menanamkan nilai-nilai moral kepada anak-anak, remaja, dan dewasa tanpa mereka merasa digurui. Kita dapat menyesuaikan bentuk dan isi dongeng serta cerpen tersebut dengan keadaan orang yang kita hadapi. Kita dapat memilih dongeng atau cerpen apa yang sesuai dengan anak-anak, remaja, atau dewasa. Kita dapat menggunakan dongeng atau cerpen yang sudah ada atau kita lebih kreatif menciptakan dongeng atau cerpen sesuai dengan tema yang akan kita berikan kepada mereka dan tujuan kita memberikan dongeng atau cerpen tersebut.

Untuk lingkungan madrasah, bentuk dan isi dongeng serta cerpen hasil karya kita dapat dibuat lebih islami. Kita juga dapat menyisipkan kisah-kisah teladan dari cerita kepahlawanan, orang-orang saleh, atau kisah para nabi dalam dongeng atau cerpen tersebut. Dengan demikian, dongeng dan cerpenpun dapat dijadikan media dakwah yang efektif dan menyenangkan. Hal ini tentu saja sangat menuntut kita untuk menulis. Bukan hanya bagi guru bahasa Indonesia, melainkan juga bagi guru bidang studi lainnya. Dengan menulis, kita dapat lebih memahami materi-materi pelajaran yang kita ajarkan dan mempelajari kembali materi-materi pelajaran yang terlupa. Kita dapat memulainya dengan bentuk dan kalimat-kalimat yang sederhana. Dengan menulis, kita dapat berdakwah melalui ilmu dan tulisan karya kita sendiri.

Contoh sederhana, seorang teman yang ingin sekali belajar bahasa asing, kebetulan waktu itu yang ingin dia kuasai adalah bahasa Inggris. Jangankan untuk kursus bahasa Inggris, untuk membeli kamus bahasa Inggrispun dia tak mampu. Kemauannya yang kuat membuatnya selalu rajin bertanya kepada guru bahasa Inggrisnya, lalu ia menuliskan makna kata bahasa Inggris tersebut ke dalam buku tulisnya. Dia tidak menghafalnya, tetapi ia sering membuka buku tulis itu. Secara tidak langsung ia membacanya. Sedikit demi sedikit, iapun mulai menguasai kosakata bahasa Inggris tersebut. Dia juga mulai mencoba mengubah sebuah pantun berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris, lama-lama ia mengubah puisi, bahkan cerpen berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Jika ia menemui kesulitan, ia tak pernah malu bertanya kepada teman yang mahir berbahasa Inggris atau memiliki kamus bahasa Inggris. Akhirnya, iapun mencoba tantangan yang lebih sulit. Ia coba menerjemahkan sebuah dongeng berbahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Hasilnya, ia bisa berbahasa Inggris tanpa kursus. Mungkin ini yang disebut ala bisa karena biasa.

Teman tersebut berhasil menguasai bahasa Inggris diawali dengan menulis kata-kata. Ilmu seorang gurupun akan semakin terasah dengan menulis. Bukankah jika harta dibagikan akan habis, jika ilmu dibagikan akan semakin paham? Jika kita membagi ilmu kepada siswa sendiri, kita akan lebih memahami ilmu kita. Apalagi jika disebarluaskan kepada publik, bukan tak mungkin kita semakin lebih paham? Bukankah hal itu akan meningkatkan kualitas mengajar kita? Tentu saja sekaligus meningkatkan kualitas siswa yang kita didik.

Selasa, Maret 10, 2009

Mengais Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW

Jakarta, 9 Maret 2009

Tak terasa tahun demi tahun telah terlewati. Tak terasa pula kita telah bertemu kembali dengan peringatan maulid Nabi yang kesekian kalinya. Beragam cara dilakukan orang untuk merayakannya. Nuansanya bergema ke seluruh pelosok. Ada yang menganggapnya mulutan karena banyak makanan, berkah kata orang. Ada pula yang menganggapnya muludan karena menekankan peringatannya.
Mulutan dan muludan memang sangat dekat. Keberkahan banyaknya makanan dan keantusiasan masyarakat terhadap peringatan atau perayaannya. Semuanya seolah-olah ingin menunjukkan kecintaan mereka kepada Rasulullah SAW. Ada yang rela memanjat pohon yang rantingnya dipenuhi berbagai benda, ada pula yang rela berdesak-desakan berebut gunungan atau telur yang telah didoakan.
Semuanya sudah baik. Akan tetapi, pernahkah kita merenungkan, adakah sesuatu yang paling penting dalam peringatan maulid ini? Dalam berbagai kesempatan mengikuti maulid, mungkin kita diingatkan kembali tentang perjuangan Nabi dan para sahabat. Apakah kita hanya mengenangnya? Atau merasa bangga dengan kejayaan masa lalu? Tentu tidak! Ada yang lebih penting daripada semua itu. Introspeksi diri. Mungkin itu salah satu jawabannya. Mengapa? Karena introspeksi diri tak harus selalu menyambut tahun baru. Salah satu hikmah terpenting maulid Nabi adalah kita mencoba mengintrospeksi diri kita secara jujur. Seberapa besarkah kecintaan kita terhadap Rasulullah? Apa buktinya kita telah mencintai Rasulullah?Apakah kita telah menyerap semangat juang Rasulullah? Apakah kita telah meniru dan meneladani akhlak Rasulullah yang agung?
Mungkin kita semua telah tahu jika kemuliaan Islam tertutup oleh perilaku sebagian umatnya. Ada yang sudah berhaji ternyata koruptor, ada pula yang sedang ramai dibicarakan orang saat ini terlibat aborsi. Mungkin orang-orang intelek akan mengatakan semua tergantung individunya. Haji ada dua, ada yang mabrur dan ada yang mardud. Mabrur yang hajinya diterima Allah dan kebaikannya berkelanjutan. Mardud yaitu haji yang berkelakuan buruk. Akan tetapi, orang-orang awam hanya melihat orang yang menyandang status haji berarti naik status sosialnya, sempurna ibadahnya, santun pula budi pekertinya. Bagaimana mereka memahami semua itu? Setiap kita bisa berdakwah. Berdakwah melalui perilaku kita sehari-hari. Dengan merenungi semua itu, dengan mengais hikmah maulid kali ini, mungkin kita bisa membuktikan kecintaan kita kepada Rasulullah nan agung.
By Vey

Minggu, Maret 01, 2009

SANG PEMIMPIN

West Jakarta, 2 Maret 2009
Menjadi seorang pemimpin itu sulit atau mudah ya? Mungkin beragam jawaban yang akan kita dapatkan. Yang bilang mudah, mungkin dia bilang it's oke, cuma sekedar jabatan. Yang bilang sulit, mungkin karena dia memikirkan beban tanggung jawabnya. Apapun jawabannya, bukankah setiap kita adalah pemimpin? Seorang ayah menjadi pemimpin bagi istrinya, seorang istri menjadi pemimpin bagi rumah tangganya, seorang kakak menjadi pemimpin bagi adik-adiknya. Itulah kepemimpinan dalam skala kecil. Minimal setiap kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri.

Menjadi seorang pemimpin bukanlah hanya sekedar sebuah jabatan yang meningkatkan status sosial dan ekonomi seseorang, tetapi harus diiringi dengan sebuah rasa tanggung jawab. Bukankah orang yang menumpuk-numpuk jabatan tanpa rasa tanggung jawab seperti orang yang memikul kayu bakar dipunggungnya, ditumpuk-tumpuk sampai ia keberatan karena tak sanggup lagi memikulnya?

Kadang menjadi seorang pemimpin yang bertanggung jawabpun masih menemui berbagai hambatan dalam rangka melaksanakan tanggung jawabnya. Beda orang, beda pikiran dan pendapat. Seseorang yang memimpin sekumpulan orang, tentu ia harus belajar memahami orang yang dipimpinnya. Tentu bukan hal mudah memimpin orang-orang dengan berbagai latar belakang. Apa lagi kalau orang yang dipimpinnya itu lebih senior. Rasa gengsi mungkin saja ada. Aku jadi ingat bagaimana Abu Bakar menangis ketika terpilih menjadi khalifah. Bukan menangis karena senang, tetapi takut tidak bisa menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. Oleh karena itu, dalam pidatonya ia mau menerima jabatan itu sebagai amanah. Akan tetapi, ia juga minta ditegur ketika melakukan kesalahan dan jangan mengikuti kebijakannya yang menyimpang dari aturan.

Ada yang bilang menjadi seorang pemimpin yang baik harus mendengarkan semua pendapat anak buahnya. Mungkin itu benar, tetapi bukan berarti menuruti semua pendapat itu. Pendapat-pendapat itu dapat dijadikan masukan dalam rangka membuat sebuah keputusan. Aku juga jadi ingat cerita seorang ayah, anaknya dan seekor keledai yang mereka miliki. Suatu saat mereka melakukan sebuah perjalanan panjang. Sang ayah dan anak menaiki keledai itu bersama-sama. Ketika melewati sekumpulan orang, mereka berkata," Kejam sekali kalian, hewan sekecil itu dinaiki berdua!". Sang ayahpun turun, hanya sang anak yang naik ke punggung keledai itu. Merekapun melewati sekumpulan orang. Mereka berkata," Tega sekali anaknya, membiarkan ayahnya berjalan kaki, sedangkan ia naik keledai." Maka turunlah anaknya. Sekarang sang ayah yang naik keledai, anaknya berjalan kaki. Ketika melewati sekumpulan orang, mereka berkata,"Ayah macam apa kamu membiarkan anakmu berjalan kaki, sedangkan engkau naik keledai?" Ayah dan anak itupun berjalan kaki sambil menuntun keledainya. Merekapun melewati sekumpulan orang. Orang-orang itupun berkata,"Bodoh sekali mereka, mereka memiliki keledai tidak dinaiki!" Ayah dan anak itu akhirnya menyadari betapa perlunya memiliki sebuah prinsip ketika melakukan sesuatu yang benar. Mereka boleh mendengarkan pendapat-pendapat itu sebagai masukan dalam melakukan sesuatu yang benar, tanpa ditanggapi dengan rasa amarah.

Kita baru memahami orang lain setelah kita menyimak dan merenungkan apa yang mereka sampaikan. Kita belajar memahami pola pikir mereka. Kita juga belajar menerima saran dan kritik tanpa amarah dan menjadikannya bahan introspeksi diri. Kita juga memerlukan prinsip ketika kita membuat sebuah keputusan, yang terbaik adalah melalui musyawarah. Walau bagaimanapun, manusia tempatnya salah dan lupa. Oleh karena itu, sebagai sesama muslim yang bersaudara, selayaknya saling mengingatkan. Kita mungkin tidak bisa menjadi pemimpin yang sempurna, tetapi kita bisa berusaha menjadi pemimpin yang terbaik. Terbaik di mata manusia, terbaik pula di hadapan Allah.

Jumat, Januari 02, 2009

NEW YEAR

Batavia City, 2 Januari 2009
What do you know about new year? New year make some body be glad although they are sad. Why? Setiap pergantian tahun Masehi selalu dirayakan besar-besaran oleh sebagian besar warga di seluruh belahan dunia ini. Hal inipun terjadi pada pergantian tahun ini, tak peduli belum lama seluruh penghuni bumi ini dibuat kalang kabut dengan krisis ekonomi dan tahun depanpun beberapa prediksi buruk menanti. Semua orang mengais harap dalam cemas. Sayang, semua dirayakan dengan pesta pora dan glamour yang berbau hedonisme.

Padahal, di belahan lain bumi ini ada sebagian penghuni yang tidak merayakannya dengan pesta pora, tetapi dengan pesta darah. Jangankan untuk memikirkan makanan dan angan-angan di masa depan, untuk menyelamatkan diripun rasanya sulit. Mungkin di benak mereka yang ada hanya sebuah asa agar mereka selamat dari segala gempuran yang membabi buta. Seluruh negeri seakan hanya bisa menonton tanpa bisa berbuat apapun. Sungguh kontradiktif sekali dengan keadaan di suatu masa yang lalu, dunia internasional bersatu menggulingkan penguasa sebuah negeri. Gempuran hebat yang menimpa sebuah bangsa oleh bangsa lain di awal tahun ini mengingatkan kita kepada pembunuhan massal dengan tujuan pemberantasan sebuah bangsa yang terjadi di masa lalu.

Jika kita renungkan isi kandungan sebuah ayat Al-Qur’an yang mengatakan bahwa kita diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling kenal mengenal, bukan saling membunuh dan menunjukkan superioritas terhadap yang lain. Bukan hanya Islam, semua agama selalu mengajarkan kedamaian terhadap sesama. Setiap suku bangsa tercipta memiliki kelebihan dan kekurangan, setiap kita tercipta memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, kita pelajari kelebihan dan kekurangan yang lain, kita tiru kelebihannya dan kita lengkapi kekurangannya. Bukan tak mungkin akan tercipta suku bangsa yang sempurna walaupun bukan kesempurnaan mutlak. Paling tidak, suku bangsa terbaik di antara yang terbaik.

Jika kita renungkan pula, dekatnya Natal, Tahun Baru Islam, dan Tahun Baru Masehi, seolah mengisyaratkan perlunya kedamaian di seluruh pelosok bumi. Hanya dalam suasana damai kita bisa membangun kemajuan, hanya dalam suasana damai kita dapat mencapai yang terbaik dari terbaik. Bagaimanapun perang hanya akan menimbulkan kerugian bagi kedua belah pihak. Menang jadi arang kalah jadi abu. Oleh karena itu, baik itu perselisihan, tawuran, perang ,atau apapun namanya hanya menimbulkan penderitaan dan keprihatinan. Sudah sepatutnya setiap kita menjadi insan beradab, setiap suku menjadi suku beradab, setiap bangsa menjadi bangsa beradab. Maka akan tercipta peradaban yang mulia. Jika hewan saja mendapat perlakuan istimewa, perlindungan serta rasa aman, apatah lagi yang namanya manusia. Makhluk yang Tuhan ciptakan paling sempurna diantara makhluk-Nya. Sepatutnya pula kita tidak mengotori kesempurnaan yang diciptakan Tuhan dengan api amarah yang membabi buta sehingga menurunkan derajat kita ke tingkat yang lebih rendah daripada seekor hewan. Sepatutnya pula setiap pergantian tahun kita rayakan dengan perenungan yang dalam penuh kejujuran, agar kesalahan di masa lampau tiada lagi terulang dan tahun esok meraih yang terbaik. Sepertinya prinsip hari ini harus lebih baik daripada kemarin, hari esok harus lebih baik daripada hari ini memang tepat kita terapkan. Jangan lagi ada penyesalan yang terulang. Semangat mengintrospeksi diri selalu ada dalam setiap kesempatan. Happy new year forever, for Us....I Hope The God always bless Us, I hope The God always with Us forever....


Senin, Oktober 20, 2008

Warnung VI : Rahasia Tabassum

Do ’u know what is tabassum? Tabassum is senyum. Do ’u know is senyum? Senyum memiliki banyak makna. Senyum adalah mengguratkan ujung garis bibir sebagai pertanda keramahan. Sebuah grup nasyid, Raihan, dalam salah satu liriknya menggambarkan senyum sebagai tanda keimanan, tanda ketabahan, serta sedekah yang paling mudah. Ya, benar! Senyum adalah tanda keimanan. Ketika seorang muslim tersenyum kepada sesamanya tanpa dibatasi apapun,baik suku, agama, maupun warna kulit, semata-mata demi menyambung silaturahmi dan membina persaudaraan karena Allah, maka niatnya sudah tercatat sebagai ibadah. Ibadah tersebut baru dapat dilaksanakan bila seseorang itu beriman kepada Allah.

Senyum adalah tanda ketabahan. Jika seseorang ditimpa kemalangan,ditimpa musibah,pastilah hatinya mengalami kesedihan. Jika ia seorang muslim,maka ia mengembalikan segalanya kepada Allah. Dari tiada kembali tiada. Segala sesuatu dari Allah dan kan kembali kepada Allah. Dengan penyerahan diri seperti itu,maka beban akan berkurang. Kesedihan cenderung membuat kita bermuram durja, yang membuat otot-otot muka kita lebih banyak yang menegang. Maka tak heran jika orang yang selalu menuruti rasa sedih, biasanya akan terlihat lebih cepat tua. Salah satu obat agar kita tetap awet muda adalah senyum. Tentu bukan sembarang senyum. Senyum yang tulus dari hati akan menggerakkan sedikit otot-otot muka kita. Hal ini akan bermanfaat bagi wajah kita karena tak banyak otot muka kita yang tegang plus merelakskan otot-otot muka kita. Hasilnya, wajah yang ceria dan aura keramahanpun terpancar. Wajahpun akan selalu tampak lebih muda. Rasulullahpun pernah mengajarkan sebuah doa perlindungan dari rasa sedih yang berkepanjangan,”Allahumma inni a’uudzubika minalhammiy wal hazani.” Rasa sedih memang sifat manusiawi, tetapi kesedihan berkepanjangan hanya akan merugikan jasmani dan rohani. Dengan sebuah sunggingan senyum, seseorang mengalirkan energi positif ke dalam dirinya yang akan membentenginya dari rasa sedih berkepanjangan. Itulah bukti kalau senyum pertanda ketabahan.

Bagi wong cilik yang benar-benar cilik, bisa jadi sedekah itu sesuatu yang amat sulit, bahkan bisa jadi barang mewah. Akan tetapi, dengan berbagi senyum kepada semua orang, tulus dari dalam hati karena Allah, iapun sudah bisa bersedekah. Yap! Senyum adalah sedekah yang paling mudah dilakukan setiap orang. Sekarang jelas khan...rahasia tabassum? Bisa menjadi senam muka yang paling murah meriah, bisa membuat wajah jadi lebih awet muda tanpa perlu operasi plastik, bisa menambah teman en saudara, sekaligus menambah tabungan pahala di akhirat.Tentu saja harus tulus karena Allah, tanpa embel-embel niat yang lain. Anda tertarik? Coba dan buktikan mulai sekarang! Gratis, tanpa efek samping pula, bagaimana? Coba dech....